Di sebuah sore, waktu ashar sudah hampir lewat bahkan berada di pertengahan menuju maghrib. Matahari pun sudah mulai redup. Seorang pemuda berlari terburu-buru mengejar di himpitan waktu tuk tunaikan kewajiban penuhi panggilan Tuhannya. Berlarilah ia ke sebuah mushola yang berada di pojok sebuah kampung.
Dibasuhnya perlahan runut dari ujung jarinya terbasuh bersuci hingga ujung kaki dan kemudian bergegas berdiri tegak bertakbir, “AllahuAkbar!”. Tiba di akhir kemesraan diri bercakap-cakap dengan Tuhannya ditutup dengan salam hingga tampak pipi tirus dan janggut tipisnya yang masih basah.
Tak disadarinya dua pria paruh baya dengan sarung hijau dan baju koko lusuh sedang mengamati gerak-gerik sang pemuda. Tetiba menyentak memecah hening kemesraan sang pemuda dengan Tuhannya sore itu.
“Hei pemuda!”, bentak salah seorang bapak bertubuh tambun berkulit hitam legam dengan tangannya yang isyaratkan memanggil sang pemuda untuk mendekat. Dengan senyum sedikit bergetar sang pemuda mencoba mendekat masih dengan perasaan terkaget mendengar sentakan keras pria paruh baya itu.
Belum sempat sang pemuda ucapkan salam tunaikan kewajiban kepada saudaranya sesama muslim untuk saling doa’kan kebaikan dan kebarakahan sambil ulurkan jabat tangan, pria paruh baya yang kemudian diketahui sebagai takmir mushala berwarna hijau daun itu kembali dengan nada tinggi mencoba mencecar.
“Siapa yang ajarkanmu sholat dengan melipat kedua tangan setinggi dada itu? Jelaskan!!! apa mahzab yang kau ikuti dan siapa guru yang mengajarkanmu?”, cejar pemuka mushola itu coba penuhi dahaga egonya.
Mencoba tetap tersenyum walau perasaan diri terkepung takut. Sang pemuda tersadar bahwa jawaban yang akan keluar dari mulutnya akan memperkeruh keadaan dan akan menyulut debat yang tiada akan berujung. Berusaha ia bersikap sesantun mungkin kemudian ia meminta maaf kepada dua pemuka mushola itu atas ketidaknyamanan hati mereka dan meyudahi kengerian sore itu dengan salam kemudian berlalu.
Sebulan berlalu terkabar merebak bahwa di kampung kecil itu berberapa bulan yang lalu di mushola mereka kedatangan seorang pemuda beraliran SESAT. Kabar itupun sampai ke telinga sang pemuda. Membuat kuping sang pemuda merona, dadanya berdegap disergap marah dan jengkel. Nafsunya membawa penyesalan, “kenapa tak ku debat saja sekalian saat itu?”, gumamnya. Ah tapi sudahlah.
Bertahun sudah terlewat sesak dan tak nyaman itu masih saja sesekali menyesak dihati dan terus bergelayut. Bertahun tak mampu maknai apa kebaikan di balik kepahitan kejadian hari itu. Di sebuah kereta perjalanan 12 jam menuju kota asal setelah 2 bulan penuhi dahaga ikhtiar pencarian ilmunya. Digenggamnya sebuah buku yang beberapa hari terakhir ini setia tak lepas dari genggamannya. Berulang kali buku itu terjatuh kala kantuk menyergap tubuh.
Tiba pada sebuah bab tentang baik sangka atas setiap kejadian baik dan buruk yang terjadi pada makhluk atas takdir Tuhan pasti tersimpan maksud sebagai isyarat untuk dijadikan perenungan jiwa bertumbuh agar mampu maknai ada kebaikan di setiap kejadian itu.
Rasa sakit dan sesak hati sang pemuda bertahun tahun itu dirasa. Seketika musnah. Musnah terbasuh kata manis tipis, ringan penuh makna dari sang penulis cerdas buku itu. Musnah! Luntur seketika. Musnah ketika membaca kisah di zaman mulia para Shalihin dan shalihat apalagi Para Sahabat lebih-lebih Rasulullah lebih berat hina dan dera yang diterima. Keperihan dan kepedihan yang diterima orang-orang mulia itu tak satupun yang dijadikan sebagai alasan untuk membalas keburukan itu dengan keburukan yang lain. Tapi malah merespon kepedihan itu dengan senyum dan perlakuan yang lebih baik dan santun. Mereka orang-orang yang mulia itu benci sekali dengan perdebatan, apalagi perdebatan tanpa ilmu yang akan sangat mudah sekali diselipi nafsu tiupan setan yang kan semakin melebarkan jarak hangatnya persaudaraan dalam indahnya bermesra dalam ukhuwah.
Pemuda itu kemudian terdiam sejenak. Kelopak matanya yang halus tak lagi mampu menampung air matanya yang akhirnya mengalir di kedua pipinya yang tirus itu. Ia yang merasa hanya dibentak sang takmir itu tak ada seujung kuku pun dari penderitaan yang diterima orang-orang mulia sebelumnya. “Ah malunya!”, ucapnya lirih jauh dalam hati. Nafsunya yang sempat timbul untuk mendebat pria paruh baya itu kemudian di Istighfari, memohon ampun ia kepada Tuhannya.
Pemuda itupun kini lebih tenang hatinya lebih damai perasaannya. ”Alhamdulillah”, ucapnya dengan senyum kelegaan. Kini ia sadar betul bahwa tak ada celah sedikitpun yang perkenankan dirinya untuk berlama-lama bersedih atas setiap kepahitan yang menempanya. Tak ada alasan buat hatinya kalut dalam dendam berkepanjangan.
Cecar pertanyaan pria paruh baya kala itu, tentang apa mahzab dan segala pertanyaan beruntun, membuatnya kini lebih rajin merunduk berguru berasik-asik penuhi dahaga ilmunya. Ilmu untuk mampu maknai dalam setiap gerak-gerik amal shalih ibadahnya. Karena ibadah tanpa ilmu adalah kosong #kataGuru nya.
Pemuda itu menyesal pernah berburuk sangka atas pahitnya kejadian yang menimpanya. Kini sungguh lebih lega karena ia telah mampu maknai dalam pahitnya. Jiwanya pun lebih ikhlas dan lapang menerima tempaan kritikan atau apapun pada diri dari orang lain yang bisa jadi hal itu benar-benar isyarat Tuhan untuk kebaikan jiwanya bertumbuh. Pilihannya untuk membalas senyum dan kemudian berlalu tanpa ikuti nafsunya untuk larut dalam perdebatan adalah sebuah pilihan terbaik yang sungguh sangat melegakan baginya.
Sahabat tak ada yang lebih melegakan selain mampu maknai Isyarat Kebaikan Dari Yang Paling Pahit. Alhamdulillah…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar