Jumat, 02 Maret 2012

Bercerminlah

Berkeluh seorang sahabat, datang dengan wajah lusuh. "sungguh aku merasa yang ku lakukan semua ini seperti sia-sia, melangkah tanpa arah, hampir selalu tubuhku merunduk bungkuk saat bertemu saudara-saudaraku, MALU. Aku tak kenal diriku dan tak tahu mau dibawa kemana jalan hidupku. Seperti  tak ada ruh dalam jiwa berjalan lunglai bak mayat hidup terkulai diatas bumi Alloh ini”, tuturnya Galau. Kepalaku tertunduk turut rasakan beratnya apa yang menggelayut dihati sahabatku itu. "Tolong bantulah, aku tak mau hidupku terus menerus gelisah seperti ini", lanjutnya.
“Sahabat… Maukah kau kuajak bermain-main sedikit?”.
"Bermain?", sahutnya terkejut, "masalahku ini sungguh serius, Tapi,baiklah aku akan ikut permainanmu, aku percaya padamu karena kau sahabatku," sambutku tersenyum.
“Permainan ini sederhana, syaratnya hanya satu”.
 "apa itu?", selanya. 
“JUJUR, ya, kau harus jujur pada dirimu sendiri, bersediakah?”
"baiklah", jawabnya sedikit gagap dengan mata sedikit menerawang.

“Sahabat..berdirilah tuk tegakan tubuhmu dalam shalat disepertiga malam penuh berkah dan ampunanNYA. luangkanlah waktumu sejenak setelah shalatmu, duduklah lebih lama dari biasanya, biarkan diri mengendap merasakan sepenuhnya keberadaan diri dibumi Alloh ini lalu bercerminlah. Bercerminlah lihat diri lekat-lekat dan bicaralah pada dirimu sendiri dengan sejujur-jujurnya hati yang ingin kembali”.

“Wahai jiwa sempurna yang telah diciptakan Alloh dengan sebaik-baiknya bentuk penciptaanNYA yang Maha Agung, kemana saja selama ini kau pergi? Mau sampai kapan kau terus menutup mata bohongi diri? menutup bohongi diri bahwa ada maksud dan tujuan mulia tertiupnya ruh tuk hadir dibumi Alloh ini.”

“Duhai jiwa yang terus mengeluh, jiwa yang tak pernah sadar telah Alloh cukupkan dengan sebaik-baiknya bekal berupa akal. sebuah potensi besar dalam diri yang takan pernah sama dipunyai walau dengan saudara sedarah sendiri. Duhh..jujurlah, sadari ada fitrah yang condong dalam setiap diri yang ketika mengerjakannya seperti tak pernah lelah sama sekali.  Yang ketika hadapi sebuah masalah terasa seperti jamu penguat diri memaksa jiwa bertumbuh untuk lebih baik lagi”.

“Sadarilah ada sebuah potensi dalam diri yang ketika menggunakannya membuat jiwa menari-nari riang,  walau hadapi masalah terjal menantang hati ini tetap senang dan lelahpun hilang saat diri terbaring istirahat dengan tenang. Temukanlah apa potensi itu, karena itulah jiwamu sesungguhnya dan dari sanalah hidup lezat dalam sebaik-baiknya kehidupan dimulai.”

“Wahai jiwa yang sedang singgah, sungguh dunia hanya ladang bekal tuk perjalanan panjang hidup setelah mati. Duhh,,,mau dikenang sebagai apa setelah mati nanti, sudah berbuat apa untuk orang-orang yang selama ini cinta dan mengasihi. banggakah mereka sebagai orang tua yang telah melahirkan jiwa ini sebagai anak buah hatinya. Banggakah istri/suami dan anak-anak kepada diri sebagai imam mereka atau mereka selama ini MALU berada disekitar kita, malu ,menjadi bagian hidup kita, pulang tak dinanti, pergi tak dirindu apalagi diharap kembali dan mati adalah kelegaan bagi mereka”

“Bangunlah jiwa yang tidur, dunia sedang menanti prestasi terbaik dari jiwa yang tlah kenali potensi besar dalam diri. Sebuah prestasi sebagai bentuk Abdi kalifah dibumi ini, prestasi terbaik sebagai bentuk syukur diri jadikan bekal bertemu Alloh nanti.

"Ya Rabb...Ampuni Jiwa ini" gumamnya, bahunya bergetar, pipi basah air matanya tumpah.
sahabat bercerminlah dan Jujurlah.....

 follow @FauzanMaliq

Tidak ada komentar:

Posting Komentar