Lepas lulus dari SMA, sudah jadi tradisi bagi pelajar Balikpapan untuk hijrah keluar Balikpapan dan tersebar di seluruh Universitas yang tersebar di pulau Jawa dan beberapa ada yang menyebrang ke Negri tetangga bahkan Eropa untuk melanjutkan kuliah.
Pun saya, melanjutkan di salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya setelah setahun sebelumnya mengikuti Training Center bulutangkis di salah satu club bulutangkis terbesar di Surabaya dan akhirnya memutuskan untuk kuliah karena kondisi kesehatan yang tak memungkinkan untuk jadi atlet.
Tinggal di sebuah rumah susun didaerah waru gunung perbatasan Surabaya-Mojokerto, 1,5 jam dari perjalanan yang harus ditempuh dari rusun menuju kampus. Tinggal bersama kakak tertua no.2 @fahmi_easy namanya, kerja disebuah perusahaan telekomunikasi seluler no.1 di Indonesia, saat ini menjabat sebagai senior supervisior. militan yang siap memerahkan daerah indonesia yang belum merah.
Dialah sang pemercik cahaya. Ditengah jadwal kerjanya yang padat pergi dari rumah jam 6 pagi sampai 11 malam tergopoh membanting badan masuk ke dalam rumah. Sampai di rumah dibasuhnya wajah dan tubuh dan bergegas ia tidur. Karena dipan yang hanya cukup 1 orang, kami bergantian selang-seling kadang saya tidur di lantai si kakak tidur di dipan dan sebaliknya.
Belum juga lama mata terpejam, tubuh juga baru saja direbahkan, terdengar gemericik air dari kamar mandi, samar-samar pandangan coba membuka mata melawan beratnya kantuk tampak sang kakak selesai berwudhu dan lihai tangannya melipat sarung dan digelarnya sajadah pengalas sujudnya. Masih samar-samar kulihat jam dinding di atas kepalanya, pukul 02:30. Sesekali ia menoleh kehadapku berharap kubangun dan tegakkan Qiyamul lail. Dan itu rutin setiap malam selelah apapun ia.
Ahh beratnya mata ini, duh empuknya kasur busa ini, dan sedikit bisikan setan "besok kuliah pagi" bumbui pembenaran untuk tak segera bangkit penuhi ibadah malam penuh keterijabahan.
Dialah sang Pemercik Cahaya, Rasa malu membuat diri rela membelalakan mata, dipan empuk perlahan berubah menjadi penggorengan panas berduri yang gelisahkan malam. Tauladannya perlahan runtuhkan kerasnya hati yang tlah lama mati ajarkan indahnya bermesra penuhi panggilan ilahi.
@fahmieasy dialah utusan Alloh sang Pemercik Cahaya,...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar