Sabtu, 17 Maret 2012

Sang Raja dan Nahkoda Kapalku

Tubuhnya tegap tinggi besar. Kepal tangannya sebesar gada.  Kulitnya putih kemuning langsat. Bibirnya tipis dan rambutnya mengkilat tersisir ke belakang rapih sedikit berjambul.

Pria kelahiran Samboja pedalaman Balikpapan 58 tahun yang lalu.  Anak ke 2,  pun dari istri ke 2 kai' Darmansyah putra dari Datuk Gampal berdarah asli Kalimantan Selatan.

Keras itulah yang tergambar dari sosok Pria sekaligus Bapak beranak 7, Suami dari Wanita sekaligus Ibu beruntung asal Malang bernama Sri Widiati kelahiran Malang Jawa Timur. 

Suaranya menggelegar bak petir yang menyambar ke 7 anaknya yang bermalasan bangun tuk tegakkan sholat subuh. Digedornya pintu kamar, dikerasinya volume TV menghentak membangunkan seisi rumah. Bangun lebih dari jam 5 subuh seolah  tabu baginya. 

Jam 5 pagi saat seisi rumah riuh mempersiapkan segala kebutuhan, mulai dari antre kamar mandi, menyetrika baju seragam, membuat sarapan, Pria ini yang paling sudah siap dan tinggal menonton berita pagi sambil menyeruput teh panas manis kesukaaannya. Sambil tersenyum melihat pasukannya yang gaduh terburu waktu takut terlambat ke sekolah dan ke kantor. 

Soal ikhtiarnya menjemput Rizki untuk kemapanan keluarganya tak diragukan lagi. Pribadi pembelajar, teliti dan detail ciri khas Akuntan membuatnya dibayar mahal oleh beberapa perusahaan sekaligus yang menggunakan jasanya dan ini menurun langsung ke 6 anaknya kecuali 1 si bungsu yang bengal memilih jalan "bebas" berkeliaran tak terpatak dibelakang meja sepertinya.

Dialah Abdul Malik bin Darmansyah bin Datuk Gampal. Raja sekaligus nahkoda yang sedang menuju masa emas mahligai rumah tangganya, berlayar dengan 1 Istri dan 7 anaknya. Mengarung menerjang badai kehidupan. Bersungut-sungut penuh amarah melawan kejinya hidup,  namun juga bersorak bangga atas kemenangan setiap pencapaian pribadi dan keluarganya. 

Kini ke 6 anaknya telah menikah, dianugrahi 11 orang cucu yang ramai berkumpul dirumah yang dulu begitu luas namun kini terasa sempit karena hibaknya menantu dan para cucu yang riang bermain berlarian. Tinggal 1 si bungsu yang sedang asik dengan usahanya dan baru saja bersimpuh merengek manja untuk menikah melepas kesendiriannya, InshaAlloh.

Dialah Abdul Malik, Sang Raja dan Nahkoda Kapalku. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar