Kamis, 22 Maret 2012

DIJAMIN kecewa

Saat harus pulang ke kampung Balikpapan, kota minyak sejuta kisah, yang sudah hampir 5 tahun ditinggal tuk pergi merantau ke Surabaya. Desakan orang tualah yang yang dengan segala beban dan berat yang menggandol di kaki dan pundak. Usaha yang baru dirintis jadi beban paling berat saat itu yang jadi alasan tuk tak kembali ke Balikpapan penuhi hasrat ibunda yang ingin sekali melihat anaknya berpakaian rapih berdasi kemudian membuatkan sarapan dan menyiapkan makanan kesukaan lepas sang anak pulang berlelah dari kantor. Yah kisah itu haru terurai di bab  “bergandengan dalam mimpi”.

Sebelum pulang, berpamitanlah saya kepada seluruh sahabat yang 5 tahun terakhir menjadi pewarna-warni kehidupan selama diperantauan. Tak terkecuali kepada para Ustadz yang tak letih menepuk bahu ingatkan sang murid untuk istiqomah berlaku yang Haq dan berpaling dari apa-apa yang bathil. Sampai tiba pada kediaman seorang yang tak jauh dari lingkaran para Guru dan kisah itu bermula dari sini.

Salam saling mendo’kan kebaikan dan kebarakahan bertukar hak dan kewajiban sebagai seorang muslim membuka pertemuan petang itu disambut salam dan peluk jantan khas ala ukhuwah. Dipersilahkanlah saya duduk menghempas tubuh kecil ini dibangku kayu berukir coklat khas jati. Sementara tepat di hadapan saya seorang bertubuh tinggi besar seperti saudagar timur tengah, tak kurang 3 kali bobot badan saya besarnya, berjanggut rapih lebat terawat. Beliau adalah mantan atasan saya di Sebuah Radio Muslim di Surabaya yang saya hanya bertahan 1 minggu karena sebuah pilihan. Saya disuruh memilih menjadi pegawai full di perusahaan atau keluar fokus menjalankan usaha saja. Sebuah pilihan yang sangat mudah, saya memilih keluar dan fokus menjalankan bisnis. Karena sejak awal saya diperkenankan membagi waktu jalani keduanya ternyata di tengah jalan beberapa pihak keberatan saya datang jam 10 pulang jam 14:00. Ya sudahlah ini pilihan.

Tahu saya akan pulang dan berniat turuti permintaan orangtua untuk bekerja di Balikpapan sebagai bentuk bakti, dahinya terkerut keheranan. Keheranan karena begitu mudahnya dulu meninggalkan perusahaan yang dipimpinnya, memilih tuk fokus bisnis tetiba berpamitan pulang untuk bekerja di Balikpapan,
“aneh” katanya, untuk apa pulang kan bisnisnya sudah berjalan. tak ragu saya beralasan, “jika bukan orangtua yang memanggil saya pulang, sungguh tak ada alasan lagi saya untuk pulang begitu saja tinggalkan bisnis yang sudah ada, saya harus pulang, saya khawatir durhaka.” Tutup saya dengan senyum.
“Tapi saya merasa ada sesuatu yang saya yakin ada yang bisa kita kerjakan bersama, entah itu apa, tapi saya punya uang yang bisa diberdayakan untuk kita join bisnis.” sahutnya.
“ahh, godaan apalagi ini yang menahan saya pulang”, gumam dalam hati. “Tapi saya tetap harus pulang, jika kita berjodoh bersyarikah, Alloh akan beri jalan, InshaAlloh”. Kemudian berpamitanlah saya pulang.

Tiba saya sudah di kota bersih indah dan nyaman, pukul 10 malam waktu Indonesia bagian tengah. Balikpapan kota kelahiran saksi diri bertumbuh dari orok sampai remaja tuntaskan SMA. Esoknya tak lama lepas tunaikan sholat subuh, telepon saya berdiring, tak berlama-lama suara khas lantang sedikit memekak telinga,
 “Zan, kapan kamu kembali ke Surabaya?, saya sudah siapkan uangnya, kalau kamu mau, segera pulang ke Surabaya, saya tunggu” pungkas sang saudagar meyakinkan .
”Terimakasih Pak akan saya pertimbangkan”.
“Segera pulang, saya akan bukakan javaSpikoe&Coffee berapapun budgetnya akan saya penuhi, hitung saja nanti email ke saya keperluannya” kali ini sedikit terdengar berlebihan takabur.
“Baik Pak..InshaAlloh”.

Berbunga-bungalah hati, JavaSpikoe&Coffee yang sudah diganang-ganang sampai terbawa mimpi. Tetiba ada seorang saudagar dengan lantang menawarkan tuk bekerjasama, “kapan lagi, ini kesempatan tak boleh disia-siakan”, gumam girang dalam hati.

Dua-tiga bulan berlalu begitu lama di Balikpapan karena tak ada kerjaan selain menunggu panggilan kerja dari sepucuk surat lamaran, mengincar sebuah posisi Accounting di sebuah perusahaan berkelas international di Stalkuda Balikpapan. Sepucuk surat lamaran yang dibuat sebagai ikhtiar bakti tak ingin disebut durhaka kepada orang tua dan tak ada hati sama sekali mengirimnya apalagi jika sampai diterima, ahh tersiksanya jalani hari yang tak sesuai minat hati. Dan benar saja tes kedua komprehensif saya tidak lulus. Akhirnya dengan segenap kerendahan dan ketulusan memohon kepada orang tua khusunya Ibu untuk kembali ke Surabaya mengejar mimpi menjadi juragan Roti.

Kabar ini menjadi sebuah kabar paling menyedihkan bagi orangtua saya sekaligus menjadi kabar gembira bagi sang saudagar mendengar kepulangan saya ke Surabaya. Ahh mungkin ini sudah rencana Alloh meliuk liku jalannya. Tapi saat inilah kemurkaan Alloh dimulai.

Semenjak keluar dari rumah berpamitan dengan orangtua ,ketika di pesawat kembali ke Surabaya hati saya terus berdecak-decak kagum penuh harap kepada sang saudagar, terbayang -bayang uangnya, wajahnya, terbayang-bayang Cafe yang akan dibangun dan saat itu saya berharap sekali kepada beliau. Dan ya, saat inilah kemurkaan Alloh dimulai. Hati semakin gelisah khawatir sekali menyinggung perasaan sang saudagar. Sikap dibuat-buat, omongan apalagi, badan merunduk seperti menghamba pada makhluk. LUPA kalau Allohlah yang berkuasa atas segala hal, LUPA kalau Allohlah sebaik-baiknya tempat bergantung dan memohon, LUPA kalau Allohlah satu-satunya yang patut disembah, LUPA kalau Allohlah Sang Investor sejati. BUKAN makhluk lemah seperti diri dan sang Saudagar.

Inilah akhir kisah, ketika semua digantungkan kepada makhluk. Merasa makhluk yang memberi pekerjaan, merasa makhluk yang mendatangkan rizki. Dan setelah 5 kali meeting dengan sang saudagar bisnis itu sampai sekarang tak kunjung terealisasi. Tak terealisasi karena tak libatkan Alloh dalam urusan ini, menomor sekiankan jauh di belakang. Lupa..lupa..lupa kalau Alloh yang berhak dan menentukan segalanya. Sekali lagi LUPA kalau Allohlah yang memiliki seluruh apa-apa yang dilangit dan dibumi. DIAlah Sejatinya Sang Investor, mengapa berharap kepada makhluk ??

Sahabat bergantunglah kepada Makhluk DIJAMIN kecewa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar