Sudah hampir larut malam itu, telpon berderang-dering dari seorang sahabat yang jauh di pahriayangan sana. Tergagap suaranya sesekali berdehem melancarkan kerongkongannya yang sesak menahan sesuatu yang ingin keluar akan meledak. Isak lembutnya mulai terdengar sambil berkata, “entah mau mulai darimana, sudah kugelar sajadah dan kuadukan kepada Alloh SWT, tapi sungguh kubutuh saudaraku tuk menyangga menopang diri yang gontai terkulai”, keluhnya..
“Baik, ceritakanlah, maka saya akan mendengar”, sahutku sambil memasang telinga mencari posisi pas menyimak curahan hati sahabat yang begitu berat baginya.
“Begini”, mulainya sedikit terbata, sesekali menghela nafas coba tenangkan dirinya.
“Belum lama kukenal Alloh, yang sebelumnya yang begitu jauh dari Alloh, jauuuh sekali…ahh aib bagi diri untuk ceritakan semua yang lalu. Berbeda sekarang, kulebih senang berasyik-asyik dengan Al-Qur’anNYA, berhijab sesuai tuntunanNYA, mendekat dan berkumpul dengan orang-orang shalih yang tak diragukan cinta dan pengorbanannya dijalan Alloh, sungguh kurasakan nyaman dan tenang sekarang, dibersamai Alloh dalam segala hal, Indah.”
“Tapi”, sambungnya, “ketenangan itu sedikit terusik, terusik saat sahabat-sahabat baik yang terkaget-kaget sulit menerima perubahan ini, tak ada maksud untuk batasi bergaul lagi dengan mereka, namun sudah tak mungkin lagi untuk berkumpul lewati menit, jam, hari dengan hal sia-sia lagi yang menjurus tuk menarik diri kembali ke kelakuan yang dulu lagi, yang sudah pasti dibenci Alloh, gelap, dan aku tak ingin kembali ke masa itu lagi. Perih, mereka sahabat-sahabat baikku sejak dulu, khawatir sekali kehilangan mereka karena perubahan ini, segetir inikah memilih jalan lezat bertaat kepada Alloh SWT?”, pungkasnya sambil terisak sedikit keras di speaker telepon.
Sayapun menghela nafas, sambil berucap “BismiLlah” dalam hati semoga Alloh bimbing hati dan lisan untuk memberi nasihat yang baik dan jauh dari meggurui.
Sahabat, ibarat sebuah gempa, ada getaran kuat mengguncang, menyerak dan porak-porandakan bangunan dan apa saja yang tak kuasa menahan guncangan dahsyat itu. ada korban, ada yang menangis tak mampu kuasai diri berteriak mencaci keadaan dalam ketercekaman. Sementara ada beberapa yang lain tampak begitu tenang dan damai maknai kejadian ini, menerima bersabar dengan lapang.
Pun guncangan perubahan yang diakibatkan diri yang sekelebat merasakan indahnya mendekat dan berlomba-lomba dalam ketaatan. Perubahan yang begitu cepat yang akibatkan guncangan yang mengusik mereka-mereka yang berada disekitar, terkaget tak mampu terima ada yang berubah dilingkarannya.
Sebelum jauh menyalahkan lingkungan dan orang-orang terdekat yang sekerang mencaci, yang sekarang merasa terusik dengan perubahan diri. Cobalah Tanya jujur pada diri, “sudah santunkah sikap dan ucap lisan ini berlaku kepada mereka atau secara tak sadar perubahan yang dirasa mengantarkan diri pada perilaku merendahkan, merasa diri sudah berubah dan lebih baik, lebih tau dari mereka sehingga berucap tak lagi seperti biasanya dan lebih terkesan menceramahi dan menggurui?” duhh…inilah dilema saat semangat perubahan meletup-letup dalam jiwa, ingin buru-buru sampaikan kebaikan namun tak mampu bersikap dan berucap yang santun. Tangisnya semakin dalam menyesak.
Sahabat, jika caci, maki dan sindiran mereka baik langsung maupun via twitland sudah kendur dan leburkan semangat bertaat ini dan terfikir untuk kembali ke masa lalu hanya karena takut kehilangan sahabat, aahh sayangnya! Sungguh perih dan sakit yang menyayat hati dan jiwa ini tak ada seujung kuku dibanding perih dan sakit menyayat orang-orang shalih, para Sahabat lebih-lebih Rasulullah SAW perjuangkan dan sampaikan indahnya berislam. Dilempari batu terkena pelipis berdarah-darah, diludahi, dilempari kotoran, tumpahi isi perut unta dicekik dengan kain belakang, diburu-dikejar-kejar untuk dibunuh, ahh malu rasanya tuk mengeluh jika seksamai kisah heroik zaman mulia itu.
Sekadar meluruskan makna sahabat. Sahabat adalah pribadi yang paling mendukung saat ada perubahan menuju kebaikan yang dilakukan oleh sahabatnya, ketika tak mendukung malah mencaci dan menjahui apa masih pantas dikatakan sahabat?. Sahabat adalah jiwa yang paling berbahagia saat sahabatnya yang lain bersemangat penuh riang merasakan sesuatu yang baru, menenangkan dan menentramkan saat bertaat kepada Alloh. Ketika yang dianggap sahabat malah menjadi yang paling bersungut-sungut dan berupaya menjauhkan dan menyeret kita keluar dari jalan lezat bersama Alloh, apa iya masih pantas dikatakan sahabat???
Inilah Surat cinta Alloh bagi pribadi yang mau bersabar, berlezat dalam ketaatan di jalan Alloh SWT,
“Maka Alloh memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan wajah dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka dan surga dan pakaian sutera. Di dalamnya mereka duduk bertelekan dipan, mereka tidak merasakan didalamnya teriknya matahari dan tidak pula dingin yang bersangatan”
“Dan naungan pohon-pohon surga itu dekat diatas mereka dan buahnya digampangkan memetiknya dengan semudah-mudahnya. Diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca. Kaca-kaca yang terbuat dari perak yang telah diukur untuk mereka dengan kadarnya. Di dalam surga itu mereka disuguhi segelas minuman yang campurannya adalah jahe zanjabil. Dari sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil.”
“Mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda, apabila kau lihat mereka kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu melihat disana, niscaya kan kau lihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera yang tebal. Dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih .” (Q.s. Al Insaan [76]; 11-21)
Jalan ini memang lurus tapi tak mulus, ada lubang, berbatu cadas, berduri tajam, tapi bersabarlah. Bersabarlah sebaik dan sebening Surga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar