Masih hangat ingatan haru birunya merayu sang Ibu tuk berikan restu
Restu untuk menari diatas hasrat si bungsu
Merayu sang Ibu untuk bergandengan dalam mimpiku
Aku bersimpuh mengharu di pangkuannya, Pun ia yang tersedu sambil membelai pusara si bungsu
Tak terbayang seberapa perihnya hati Ibu yang menyembilu malu
Kuping memanas memerah terbanam api pilu
Kala mendengar anak tetangga diterima di perusahaan Asing beken bewarna merah Padang itu
Ahh beratnya masa itu, tapi sungguh itu dulu dan semua sudah berlalu
Kini tak sama seperti yang lalu, aku dan ibu, hati kami kini telah bersatu
Duh...harunya ketika kutahu sang ibu sungguh begitu mengagumi si bungsu.
Diam-diam ia selalu memikirkanku
Lisannya basah tak putus berdzikir untuk kebaikan dan kebarakahan hidup si bungsu.
Kata mereka ibuku selalu tersenyum riang kala dendangkan tentang kisahku
"tak menyesal akan restu yang lalu, kini aku percaya mimpi besar anakku si bungsu", ujar ibuku
Kata mereka mata ibuku lalu berkilauan bak kaca setiap ia sebutkan nama si bungsu
Pun Ayahku yang tak lagi canggung sebutkan nama si bungsu dalam rukuk dan sujud malam penuh khusyu'
Duhh...rasanya seperti terlega dahaga,
Dulu kami saling benci kini berbuah jadi cinta
Dulu kami bersunyi kini telah besuara saling bicara tersatu dalam do’a
Ahh...indahnya kala mimpi bisa sefrekuensi
Kala kami bisa bergandengan dalam mimpi, selangkah, searah...
Apalagi kini kupunya penggemar Abadi,
Penggemar abadi yang temani si bungsu merajut mimpi
Penggemar Abadi itu adalah Ibu dan Ayahku..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar