Senin, 24 Desember 2012

Apa Enaknya Merantau?


Apa enaknya jauh dari keluarga? Kok mau-maunya jauh dari orang-orang tercinta. Sebaik apapun oranglain namun keluarga tetap tak terganti. Ujar para guru, lelaki pantaslah merantau jauh meninggalkan ketiak sang ibu. Pergi jauh berlabuh meninggalkan semua kenikmatan yang telah tersuguh. Ahh memang apa enakny tinggal jauh dari keluarga, tak ada tempat berkisah seluas keluarga, tak ada bahu setegar bahu keluarga yang kokoh untuk sandaran saat lelah. Memilih untuk jauh dari keluarga sebenarnya ya mencari masalah.

Tapi kemudahan, kenikmatan dan segala fasilitas kadang sungguh melenakan. Siapa yang tak ingin hidup mudah dan siapa yang tak ingin hidup serba berkecukupan? Tapi apakah hidup selalu dalam kemudahan dan bergelimang kenikmatan. Jika jawabnya tidak, lalu sudah siapkah jika ia datang merapat? Maka belajar sedini mungkin untuk lepas dari kemudahan yang orangtua berikan adalah kebaikan. kebaikan yang dicicil untuk  ketangguhan hidup dimasa mendatang. Bukan sombong menolak kemudahan yang orangtua berikan, namun ini pilihan. Karena tak selamanya orangtua juga hidup dalam kecukupan dan tak selamanya orangtua gagah berdiri seperti sekarang.

Ya memang jauh dari keluarga sangatlah tak mudah. Tapi tak ada yang sia-sia dibalik kesusahan saat diri ini mencoba berlatih untuk gagah hidup mandiri. Tak ada sekecil zarrah yang tak terbalas, termasuk sekecil apapun kesusahan yang dirasa saat pergi jauh merantau meninggalkan mereka yang terkasih. Alloh yang Maha baik itu malu jika tak kabulkan do’a hambanya yang sedang dalam perjalanan jauh dalam rangka ketaatan kepadanya. Pertanyaannya dalam rangka apa ya niatan kita merantau jauh meninggalkan keluarga selama ini?  ketaatan atau kemaksiatankah, mendekatkankah atau malah menjauhkan dari sisi Alloh?

Pergi jauh menuntut ilmu adalah kebaikan, pun mencari rizky sampai jauh kenegri orang juga juga tak kalah baiknya. namun cobalah koreksi hati lebih dalam benarkah semua yang dikerjakan dalam niatan amal shalih penuh ketaatan kepadaNYA. Jika dunia yang menjadi alasanmu merantau maka itulah yang kan kita dapatkan dan akhirat pastikan terabaikan. Merantau demi harta maka harta yang didapat, merantau demi kekasih pujaan hati maka diberilah sang kekasih dan apalah arti harta dan kekasih jika semua itu akibatkan diri terpaling dari akhirat sebagai sebaik-baiknya balasan. Maka jika sudah selama ini terlanjur merantau dengan niatan yang salah, meng-upgrade niatan sesegera mungkin adalah keharusan. Jadikan semua pencapaian dalam rangka ibadah amal shalih penuh ketaatan kepadaNYA.

Selamat perbaharui niat sahabat..
Salam, Ingin ngobrol dengan saya follow @fauzanMaliQ di twitter

Jumat, 23 Maret 2012

Isyarat Kebaikan dari yang Paling Pahit

Di sebuah sore, waktu ashar sudah hampir lewat bahkan berada di pertengahan menuju maghrib. Matahari pun sudah mulai redup. Seorang pemuda berlari terburu-buru mengejar di himpitan waktu tuk tunaikan kewajiban penuhi panggilan Tuhannya. Berlarilah ia ke sebuah mushola yang berada di pojok sebuah kampung.

Dibasuhnya perlahan runut dari ujung jarinya terbasuh bersuci hingga ujung kaki dan kemudian bergegas berdiri tegak bertakbir, “AllahuAkbar!”.  Tiba di akhir kemesraan diri bercakap-cakap dengan Tuhannya ditutup dengan salam hingga tampak pipi tirus dan janggut tipisnya yang masih basah.

Tak disadarinya dua pria paruh baya dengan sarung hijau dan baju koko lusuh sedang mengamati gerak-gerik sang pemuda. Tetiba menyentak memecah hening kemesraan sang pemuda dengan Tuhannya sore itu.

“Hei pemuda!”, bentak salah seorang bapak bertubuh tambun berkulit hitam legam dengan tangannya yang isyaratkan memanggil sang pemuda untuk mendekat. Dengan senyum sedikit bergetar sang pemuda mencoba mendekat masih dengan perasaan terkaget mendengar sentakan keras pria paruh baya itu.

Belum sempat sang pemuda ucapkan salam tunaikan kewajiban kepada saudaranya sesama muslim untuk saling doa’kan kebaikan dan kebarakahan sambil ulurkan jabat tangan, pria paruh baya yang kemudian diketahui sebagai takmir mushala berwarna hijau daun itu kembali dengan nada tinggi mencoba mencecar.

“Siapa yang ajarkanmu sholat dengan melipat kedua tangan setinggi dada itu? Jelaskan!!! apa mahzab yang kau ikuti dan siapa guru yang mengajarkanmu?”, cejar pemuka mushola itu coba penuhi dahaga egonya.

Mencoba tetap tersenyum walau perasaan diri terkepung takut. Sang pemuda tersadar bahwa jawaban yang akan keluar dari mulutnya akan memperkeruh keadaan dan akan menyulut debat yang tiada akan berujung. Berusaha ia bersikap sesantun mungkin kemudian ia meminta maaf kepada dua pemuka mushola itu atas ketidaknyamanan hati mereka dan meyudahi kengerian sore itu dengan salam kemudian berlalu.

Sebulan berlalu terkabar merebak bahwa di kampung kecil itu berberapa bulan yang lalu di mushola mereka kedatangan seorang pemuda beraliran SESAT. Kabar itupun sampai ke telinga sang pemuda. Membuat kuping sang pemuda merona, dadanya berdegap disergap marah dan jengkel. Nafsunya membawa penyesalan, “kenapa tak ku debat saja sekalian saat itu?”, gumamnya. Ah tapi sudahlah.

Bertahun sudah terlewat sesak dan tak nyaman itu masih saja sesekali menyesak dihati dan terus bergelayut. Bertahun tak mampu maknai apa kebaikan di balik kepahitan kejadian hari itu. Di sebuah kereta perjalanan 12 jam menuju kota asal setelah 2 bulan penuhi dahaga ikhtiar pencarian ilmunya. Digenggamnya sebuah buku yang beberapa hari terakhir ini setia tak lepas dari genggamannya. Berulang kali buku itu terjatuh kala kantuk menyergap tubuh.

Tiba pada sebuah bab tentang baik sangka atas setiap kejadian baik dan buruk yang terjadi pada makhluk atas takdir Tuhan pasti tersimpan maksud sebagai isyarat untuk dijadikan perenungan jiwa bertumbuh agar mampu maknai ada kebaikan di setiap kejadian itu.

Rasa sakit dan sesak hati sang pemuda bertahun tahun itu dirasa. Seketika musnah. Musnah terbasuh kata manis tipis, ringan penuh makna dari sang penulis cerdas buku itu. Musnah! Luntur seketika. Musnah ketika membaca kisah di zaman mulia para Shalihin dan shalihat apalagi Para Sahabat lebih-lebih Rasulullah lebih berat hina dan dera yang diterima. Keperihan dan kepedihan yang diterima orang-orang mulia itu tak satupun yang dijadikan sebagai alasan untuk membalas keburukan itu dengan keburukan yang lain. Tapi malah merespon kepedihan itu dengan senyum dan perlakuan yang lebih baik dan santun. Mereka orang-orang yang mulia itu benci sekali dengan perdebatan, apalagi perdebatan tanpa ilmu yang akan sangat mudah sekali diselipi nafsu tiupan setan yang kan semakin melebarkan jarak hangatnya persaudaraan dalam indahnya bermesra dalam ukhuwah.

Pemuda itu kemudian terdiam sejenak. Kelopak matanya yang halus tak lagi mampu menampung air matanya yang akhirnya mengalir di kedua pipinya yang tirus itu. Ia yang merasa hanya dibentak sang takmir itu tak ada seujung kuku pun dari penderitaan yang diterima orang-orang mulia sebelumnya. “Ah malunya!”, ucapnya lirih jauh dalam hati. Nafsunya yang sempat timbul untuk mendebat pria paruh baya itu kemudian di Istighfari, memohon ampun ia kepada Tuhannya.

Pemuda itupun kini lebih tenang hatinya lebih damai perasaannya. ”Alhamdulillah”, ucapnya dengan senyum kelegaan.  Kini ia sadar betul bahwa tak ada celah sedikitpun yang perkenankan dirinya untuk berlama-lama bersedih atas setiap kepahitan yang menempanya. Tak ada alasan buat hatinya kalut dalam dendam berkepanjangan.

Cecar pertanyaan pria paruh baya kala itu, tentang apa mahzab dan segala pertanyaan beruntun, membuatnya kini lebih rajin merunduk berguru berasik-asik penuhi dahaga ilmunya. Ilmu untuk mampu maknai dalam setiap gerak-gerik amal shalih ibadahnya. Karena ibadah tanpa ilmu adalah kosong #kataGuru nya.

Pemuda itu menyesal pernah berburuk sangka atas pahitnya kejadian yang menimpanya. Kini sungguh lebih lega karena ia telah mampu maknai dalam pahitnya. Jiwanya pun lebih ikhlas dan lapang menerima tempaan kritikan atau apapun pada diri dari orang lain yang bisa jadi hal itu benar-benar isyarat Tuhan untuk kebaikan jiwanya bertumbuh. Pilihannya untuk membalas senyum dan kemudian berlalu tanpa ikuti nafsunya untuk larut dalam perdebatan adalah sebuah pilihan terbaik yang sungguh sangat melegakan baginya.  

Sahabat tak ada yang lebih melegakan selain mampu maknai Isyarat Kebaikan Dari Yang Paling Pahit. Alhamdulillah…


Bahagia Tak Besyarat

SMA, memang masa paling bahagia menurut saya sekaligus masa paling suram karena berjalan petentang-petenteng bangga dengan kebodohan dan kebobrokan saat itu. “Kesombongan di masa muda yang indah”, kata SO7 dalam lirik lagu Sahabat Sejati.  Tak bermaksud berbangga dengan kelamnya masa lalu tapi ada sebuah kisah disana. Kisah yang berkali-kali membuat saya terbahak, sesekali menangis menoleh kemasa itu.

Di masa itu, menurut saya, yang paling keren adalah ketika ke sekolah dengan sepatu Nike, tas Spyderbilt, tunggangi Kawasaki Ninja RR, pergi dan pulangnya membonceng pacar. Di sekolah bergerombol dengan siswa “sejenis” dengan sepatu, tas, dan tunggangan yang tak kalah sporty bahkan beberapa ada yang ke sekolah dengan mobil mewah dengan terlebih dulu membunyikan klakson khasnya ketika memasuki pagar sekolah dan perlahan kaca film gelap terbuka dan si siswa melambaikan tangan sembari tersenyum tak simetris terangkat ke kiri atas sedikit, khas senyum pak raden tanpa kumis. Sembari dibumbui kresek-kresek suara siswa-siswi tertakjub-takjub dengan siswa itu. dan stir bundar itulah yang kemudian menyihir para kaum hawa, alhasil setiap bulan yang duduk dijok sebelah kiripun berganti-ganti. Ahh bahagianya hidup mereka.

Sayangnya bukan saya yang bersepatu dan tas bemerk jutaan itu dan bukan juga yang tunggangi motor dan mobil sporty itu. Saya hanya penonton. saya hanya anak seorang penjual sayur, yang dengan susah payah mencoba menjadi bagian dari mereka, dan bisa ditebak, tak pernah berhasil. Sepatu saya sekalipun bermerek, itu beli bekas dengan membayar ¼ dari harga jual di toko, itupun karena sepatunya sudah mau dibuang oleh teman yang hampir setiap bulan berganti-ganti sepatu. Pun begitu dengan tas juga bekas. ke sekolah dengan angkot sesekali turun lebih pagi agar bisa mencegat sahabat saya Fauzie yang diantar oleh orangtuanya dengan mobil Mitsubishi Galant silver yang pasti lewat di depan Gapura gunung belah rumah saya.

Yah, saya anak penjual sayur. Anak penjual sayur yang tak tau diri, tak tau diri dengan mengukur batas kebahagiaan dirinya dengan kebendaan sementara diri tak mampu. kemudian hidup dan waktu saya habis untuk memikirkan bagaimana saya bisa beli sepatu dan tas model terbaru, merasa terancam dan sakit hati sekali ketika ada siswa lain yang punya barang yang sama atau lebih parah lagi lebih bagus dan lebih mahal dari yang saya punya. terus..teruss begitu setiap harinya,dan itu adalah siksaan hati yang luar biasa.

Apakah sahabat pernah merasakan pengalaman yang hampir sama dengan cerita di atas?. Saat kebahagiaan hanya sebatas nilai kebendaan. Saat nilai diri ditentukan oleh mahal dan murahnya, bermerk atau tidaknya barang yang kita pakai lalu seketika harga diri dan hidup tak lagi berharga ketika ada orang lain yang menyamai atau bahkan melebihi.

Lalu bagaimana bisa merasakan kelezatan hidup sebenarnya? Tak ada yang salah dengan tas, sepatu, kendaraan, uang, atau apapun yang kita punya, tapi menjadi masalah ketika itu semua menjadi batasan untuk bisa merasakan dan menikmati bahagianya, lezatnya kehidupan ini. Berhentilah sejenak.  Lalu rasakan kelezatan hidup yang benar-benar kita harapkan. Jujurlah, sampai kapan mau membatas-batasi kebahagiaan dan kelezatan hidup ini?

Mulai sekarang definisikan sendiri #hidupLezat dan bahagia apa yang kita mau. Definisikan dengan mengukur dan berkaca pada diri, bukan berdiri di atas ekspektasi kelezatan dan kebahagiaan hidup orang lain

Sahabat Berbahagialah …..
"Hidup bahagia dan lezat  itu tak bersyarat, hidup bahagia dan lezat itu ada disini (dalam diri)"

Kamis, 22 Maret 2012

DIJAMIN kecewa

Saat harus pulang ke kampung Balikpapan, kota minyak sejuta kisah, yang sudah hampir 5 tahun ditinggal tuk pergi merantau ke Surabaya. Desakan orang tualah yang yang dengan segala beban dan berat yang menggandol di kaki dan pundak. Usaha yang baru dirintis jadi beban paling berat saat itu yang jadi alasan tuk tak kembali ke Balikpapan penuhi hasrat ibunda yang ingin sekali melihat anaknya berpakaian rapih berdasi kemudian membuatkan sarapan dan menyiapkan makanan kesukaan lepas sang anak pulang berlelah dari kantor. Yah kisah itu haru terurai di bab  “bergandengan dalam mimpi”.

Sebelum pulang, berpamitanlah saya kepada seluruh sahabat yang 5 tahun terakhir menjadi pewarna-warni kehidupan selama diperantauan. Tak terkecuali kepada para Ustadz yang tak letih menepuk bahu ingatkan sang murid untuk istiqomah berlaku yang Haq dan berpaling dari apa-apa yang bathil. Sampai tiba pada kediaman seorang yang tak jauh dari lingkaran para Guru dan kisah itu bermula dari sini.

Salam saling mendo’kan kebaikan dan kebarakahan bertukar hak dan kewajiban sebagai seorang muslim membuka pertemuan petang itu disambut salam dan peluk jantan khas ala ukhuwah. Dipersilahkanlah saya duduk menghempas tubuh kecil ini dibangku kayu berukir coklat khas jati. Sementara tepat di hadapan saya seorang bertubuh tinggi besar seperti saudagar timur tengah, tak kurang 3 kali bobot badan saya besarnya, berjanggut rapih lebat terawat. Beliau adalah mantan atasan saya di Sebuah Radio Muslim di Surabaya yang saya hanya bertahan 1 minggu karena sebuah pilihan. Saya disuruh memilih menjadi pegawai full di perusahaan atau keluar fokus menjalankan usaha saja. Sebuah pilihan yang sangat mudah, saya memilih keluar dan fokus menjalankan bisnis. Karena sejak awal saya diperkenankan membagi waktu jalani keduanya ternyata di tengah jalan beberapa pihak keberatan saya datang jam 10 pulang jam 14:00. Ya sudahlah ini pilihan.

Tahu saya akan pulang dan berniat turuti permintaan orangtua untuk bekerja di Balikpapan sebagai bentuk bakti, dahinya terkerut keheranan. Keheranan karena begitu mudahnya dulu meninggalkan perusahaan yang dipimpinnya, memilih tuk fokus bisnis tetiba berpamitan pulang untuk bekerja di Balikpapan,
“aneh” katanya, untuk apa pulang kan bisnisnya sudah berjalan. tak ragu saya beralasan, “jika bukan orangtua yang memanggil saya pulang, sungguh tak ada alasan lagi saya untuk pulang begitu saja tinggalkan bisnis yang sudah ada, saya harus pulang, saya khawatir durhaka.” Tutup saya dengan senyum.
“Tapi saya merasa ada sesuatu yang saya yakin ada yang bisa kita kerjakan bersama, entah itu apa, tapi saya punya uang yang bisa diberdayakan untuk kita join bisnis.” sahutnya.
“ahh, godaan apalagi ini yang menahan saya pulang”, gumam dalam hati. “Tapi saya tetap harus pulang, jika kita berjodoh bersyarikah, Alloh akan beri jalan, InshaAlloh”. Kemudian berpamitanlah saya pulang.

Tiba saya sudah di kota bersih indah dan nyaman, pukul 10 malam waktu Indonesia bagian tengah. Balikpapan kota kelahiran saksi diri bertumbuh dari orok sampai remaja tuntaskan SMA. Esoknya tak lama lepas tunaikan sholat subuh, telepon saya berdiring, tak berlama-lama suara khas lantang sedikit memekak telinga,
 “Zan, kapan kamu kembali ke Surabaya?, saya sudah siapkan uangnya, kalau kamu mau, segera pulang ke Surabaya, saya tunggu” pungkas sang saudagar meyakinkan .
”Terimakasih Pak akan saya pertimbangkan”.
“Segera pulang, saya akan bukakan javaSpikoe&Coffee berapapun budgetnya akan saya penuhi, hitung saja nanti email ke saya keperluannya” kali ini sedikit terdengar berlebihan takabur.
“Baik Pak..InshaAlloh”.

Berbunga-bungalah hati, JavaSpikoe&Coffee yang sudah diganang-ganang sampai terbawa mimpi. Tetiba ada seorang saudagar dengan lantang menawarkan tuk bekerjasama, “kapan lagi, ini kesempatan tak boleh disia-siakan”, gumam girang dalam hati.

Dua-tiga bulan berlalu begitu lama di Balikpapan karena tak ada kerjaan selain menunggu panggilan kerja dari sepucuk surat lamaran, mengincar sebuah posisi Accounting di sebuah perusahaan berkelas international di Stalkuda Balikpapan. Sepucuk surat lamaran yang dibuat sebagai ikhtiar bakti tak ingin disebut durhaka kepada orang tua dan tak ada hati sama sekali mengirimnya apalagi jika sampai diterima, ahh tersiksanya jalani hari yang tak sesuai minat hati. Dan benar saja tes kedua komprehensif saya tidak lulus. Akhirnya dengan segenap kerendahan dan ketulusan memohon kepada orang tua khusunya Ibu untuk kembali ke Surabaya mengejar mimpi menjadi juragan Roti.

Kabar ini menjadi sebuah kabar paling menyedihkan bagi orangtua saya sekaligus menjadi kabar gembira bagi sang saudagar mendengar kepulangan saya ke Surabaya. Ahh mungkin ini sudah rencana Alloh meliuk liku jalannya. Tapi saat inilah kemurkaan Alloh dimulai.

Semenjak keluar dari rumah berpamitan dengan orangtua ,ketika di pesawat kembali ke Surabaya hati saya terus berdecak-decak kagum penuh harap kepada sang saudagar, terbayang -bayang uangnya, wajahnya, terbayang-bayang Cafe yang akan dibangun dan saat itu saya berharap sekali kepada beliau. Dan ya, saat inilah kemurkaan Alloh dimulai. Hati semakin gelisah khawatir sekali menyinggung perasaan sang saudagar. Sikap dibuat-buat, omongan apalagi, badan merunduk seperti menghamba pada makhluk. LUPA kalau Allohlah yang berkuasa atas segala hal, LUPA kalau Allohlah sebaik-baiknya tempat bergantung dan memohon, LUPA kalau Allohlah satu-satunya yang patut disembah, LUPA kalau Allohlah Sang Investor sejati. BUKAN makhluk lemah seperti diri dan sang Saudagar.

Inilah akhir kisah, ketika semua digantungkan kepada makhluk. Merasa makhluk yang memberi pekerjaan, merasa makhluk yang mendatangkan rizki. Dan setelah 5 kali meeting dengan sang saudagar bisnis itu sampai sekarang tak kunjung terealisasi. Tak terealisasi karena tak libatkan Alloh dalam urusan ini, menomor sekiankan jauh di belakang. Lupa..lupa..lupa kalau Alloh yang berhak dan menentukan segalanya. Sekali lagi LUPA kalau Allohlah yang memiliki seluruh apa-apa yang dilangit dan dibumi. DIAlah Sejatinya Sang Investor, mengapa berharap kepada makhluk ??

Sahabat bergantunglah kepada Makhluk DIJAMIN kecewa.

Rabu, 21 Maret 2012

Kosong

Berkali ku tarik nafas sedalam yang ku bisa tuk coba mengubur entah apa yang saat ini sedang dirasa

Bertanya pada diri pun tak lagi tau apa sebabnya.

Coba..coba,,coba

Ku basuh runut dari pucuk jemari hingga kaki tuk bersuci berharap jiwa sejuk terpercik damai

Berdiri tegak, berukuk kemudian bersujud sendu jadikan sholat sebagai rehat.

Perlahan kubuka mushabNYA

Kubaca tak fasih… terbata…. duhh malunya

Ahhh mengapa masih ada sesak tersisa

Mungkin ini semua karena dilakukan tanpa makna, Kosong

Wudhuku hanya sekadar wudhu percak-percik air yang basahi tubuh , tak resapi air pembasuh sebagai penyuci, tanpa makna, Kosong…

Sholat, rukuk dan sujudku tak sama sekali rehatkan jiwa, bacaan sering alpa, rukuk hanya sekedar membungkuk, sujud hanya sekedar sujud, hanya terus bergerak dan seterusnya tanpa makna, kosong

Pun apalagi tilawahku, jauh dari benar apalagi merdu, satu dua huruf terbata, datar sesekali menarik nafas, kehabisan. Terengah-engah lelah, tunai satu halaman itupun sudah paling bagus.

Ahh dunia sebegitu banyaknya kau sita perhatianku

Ahh Harta sebegitu berkilaunya kau silaukan alingkan pandanganku pada Istana Maha Megah di Surga sana

Ahh Tahta sebegitu gilanya kuasai hatiku lupakan abadinya akhirat  penuh nikmat.

Ahh wanita sebegitu dahsyatnya kau meggoda dan alihkan abadinya bidadari yang terus menerus belia di Surga sana

Ya Rabb jadikan hati dan jiwa ini mampu maknai semua amal shalih kepadaMu
Ya Rabb jadikan hati dan jiwa ini selalu membersamaiMu
MembersamaiMu dengan lisan yang senantiasa basah ingat kepadaMu
MembersamaiMu dalam ibadah, ikhlas, tunduk dalam ketaatan,,
Agar hidup ini penuh Makna dan tak Kosong





Selasa, 20 Maret 2012

Sebaik dan Sebening Surga

Sudah hampir larut malam itu, telpon berderang-dering dari seorang sahabat yang jauh di pahriayangan sana. Tergagap suaranya sesekali berdehem melancarkan kerongkongannya yang sesak menahan sesuatu yang ingin keluar akan meledak.  Isak lembutnya mulai terdengar sambil berkata, “entah mau mulai darimana, sudah kugelar sajadah dan kuadukan kepada Alloh SWT, tapi sungguh kubutuh saudaraku tuk menyangga menopang diri yang gontai terkulai”, keluhnya..

“Baik, ceritakanlah, maka saya akan mendengar”, sahutku sambil memasang telinga mencari posisi pas menyimak curahan hati sahabat yang begitu berat baginya.

“Begini”, mulainya sedikit terbata, sesekali menghela nafas coba tenangkan dirinya.
“Belum lama kukenal Alloh, yang sebelumnya yang begitu jauh dari Alloh, jauuuh sekali…ahh aib bagi diri untuk ceritakan semua yang lalu.  Berbeda sekarang, kulebih senang berasyik-asyik dengan Al-Qur’anNYA, berhijab sesuai tuntunanNYA, mendekat dan berkumpul dengan orang-orang shalih yang tak diragukan cinta dan pengorbanannya dijalan Alloh, sungguh kurasakan nyaman dan tenang sekarang, dibersamai Alloh dalam segala hal, Indah.”
“Tapi”, sambungnya, “ketenangan itu sedikit terusik, terusik saat sahabat-sahabat baik yang terkaget-kaget sulit menerima perubahan ini, tak ada maksud untuk batasi bergaul lagi dengan mereka, namun sudah tak mungkin lagi untuk berkumpul lewati menit, jam, hari dengan hal sia-sia lagi yang menjurus tuk menarik diri kembali ke kelakuan yang dulu lagi, yang sudah pasti dibenci Alloh, gelap, dan aku tak ingin kembali ke masa itu lagi. Perih, mereka sahabat-sahabat baikku sejak dulu, khawatir sekali kehilangan mereka karena perubahan ini, segetir inikah memilih jalan lezat bertaat kepada Alloh SWT?”, pungkasnya sambil terisak sedikit keras di speaker telepon.

Sayapun menghela nafas, sambil berucap “BismiLlah” dalam hati semoga Alloh bimbing hati dan lisan untuk memberi nasihat yang baik dan jauh dari meggurui.

Sahabat, ibarat sebuah gempa, ada getaran kuat mengguncang, menyerak dan porak-porandakan bangunan dan apa saja yang tak kuasa menahan guncangan dahsyat itu. ada korban, ada yang menangis tak mampu kuasai diri berteriak mencaci keadaan dalam ketercekaman. Sementara ada beberapa yang lain tampak begitu tenang dan damai maknai kejadian ini, menerima bersabar dengan lapang.

Pun guncangan perubahan yang diakibatkan diri yang sekelebat merasakan indahnya mendekat dan berlomba-lomba dalam ketaatan. Perubahan yang begitu cepat yang akibatkan  guncangan yang mengusik mereka-mereka yang berada disekitar, terkaget tak mampu terima ada yang berubah dilingkarannya.

Sebelum jauh menyalahkan lingkungan dan orang-orang terdekat yang sekerang mencaci, yang sekarang merasa terusik dengan perubahan diri. Cobalah Tanya jujur pada diri, “sudah santunkah sikap dan ucap lisan ini berlaku kepada mereka atau secara tak sadar perubahan yang dirasa mengantarkan diri pada perilaku merendahkan, merasa diri sudah berubah dan lebih baik, lebih tau dari mereka sehingga berucap tak lagi seperti biasanya dan lebih terkesan menceramahi dan menggurui?” duhh…inilah dilema saat semangat perubahan meletup-letup dalam jiwa, ingin buru-buru sampaikan kebaikan namun tak mampu bersikap dan berucap yang santun.  Tangisnya semakin dalam menyesak.

Sahabat, jika caci, maki dan sindiran mereka baik langsung maupun via twitland sudah kendur dan leburkan semangat bertaat ini dan terfikir untuk kembali ke masa lalu hanya karena takut kehilangan sahabat, aahh sayangnya! Sungguh perih dan sakit yang menyayat hati dan jiwa ini tak ada seujung kuku dibanding perih dan sakit menyayat orang-orang shalih, para Sahabat lebih-lebih Rasulullah SAW perjuangkan dan sampaikan indahnya berislam. Dilempari batu terkena pelipis berdarah-darah, diludahi, dilempari kotoran, tumpahi isi perut unta dicekik dengan kain belakang, diburu-dikejar-kejar untuk dibunuh, ahh malu rasanya tuk mengeluh jika seksamai kisah heroik zaman mulia itu.

Sekadar meluruskan makna sahabat. Sahabat adalah pribadi yang paling mendukung saat ada perubahan menuju kebaikan yang dilakukan oleh sahabatnya, ketika tak mendukung malah mencaci dan menjahui apa masih pantas dikatakan sahabat?. Sahabat adalah jiwa yang paling berbahagia saat sahabatnya yang lain bersemangat penuh riang merasakan sesuatu yang baru, menenangkan dan menentramkan saat bertaat kepada Alloh. Ketika yang dianggap sahabat malah menjadi yang paling bersungut-sungut dan berupaya menjauhkan dan menyeret kita keluar dari jalan lezat bersama Alloh, apa iya masih pantas dikatakan sahabat???
 Inilah Surat cinta Alloh bagi pribadi yang mau bersabar, berlezat dalam ketaatan di jalan Alloh SWT,

“Maka Alloh memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan wajah dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka dan surga dan pakaian sutera. Di dalamnya mereka duduk bertelekan dipan, mereka tidak merasakan didalamnya teriknya matahari dan tidak pula dingin yang bersangatan”

“Dan naungan pohon-pohon surga itu dekat diatas mereka dan buahnya digampangkan memetiknya dengan semudah-mudahnya. Diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca. Kaca-kaca yang terbuat dari perak yang telah diukur untuk mereka dengan kadarnya. Di dalam surga itu mereka disuguhi segelas minuman yang campurannya adalah jahe zanjabil. Dari sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil.”

“Mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda, apabila kau lihat mereka kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu melihat disana, niscaya kan kau lihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera yang tebal. Dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih .” (Q.s. Al Insaan [76]; 11-21)

Jalan ini memang lurus tapi tak mulus, ada lubang, berbatu cadas, berduri tajam, tapi bersabarlah. Bersabarlah sebaik dan sebening Surga 

Senin, 19 Maret 2012

Berbaik Sangka, Ini Kebaikan

“Jika ada gelap maka kan segera terbit terang
Jika ada ketakutan maka bersamaan datang keberharapan
Pun dengan kehidupan selalu ada pilihan
Pilihan untuk memilih jalan kebaikan atau keburukan “

Kekhawatiran dan ketakutan diri atas mudahnya karunia yang begitu cepat terijabah sebagai karunia yang dilempar bukan diantar. Khawatir dirilah sang pengamen berpenampilan garang bersuara parau dan cemprang yang membuat risi dan benci sesiapun yang mendengarnya akan segera memberi uang agar sang pengamen segera pergi dan beralih. Tapi layaknya gelap dan terang, jauh-dekat atau baik dan buruk. Ketakutan kekhawatiran yang dirasa, bersamaan juga terselip keberharapan. Keberharapan yang mengantarkan diri untuk semakin mendekat dan bersemangat bertaat-taat.

Keberharapan yang menggiring perasaan dan jiwa saya untuk memilih berbaik sangka kepada Alloh SWT bahwa karunia berupa mudahnya bisnis toko koewe javaSpikoe dan konveksi saya yang berkembang sebagai alat atau media Alloh SWT. Alat atau media yang kemudian sepenuhnya Alloh berikan hak kepada diri untuk memilih pilihan. Pilihan memaknai semua yang diberi ini sebagai apa. Kan jadi musibah atau anugrahkah.

Menjadi musibah ketika karunia ini menjadikan diri jumawa merasa semua didapat karena kecerdasan dan kehebatan diri. Jadikan diri berjalan mendangak dengan dada membusung penuh angkuh kemurkaan. Berbeda ketika karunia yang didapat disambut dengan penuh kesyukuran dan ketawadhuan. Jadikan semakin sadar bahwa diri sungguh tak berarti dan bermampu apa-apa tanpa pertolongan Alloh SWT. Kesadaran itulah yang membuat diri berjalan merunduk dan tak ada celah tuk beralasan sombong dan tepuk dada sendiri yang membuat hati tenang dan hidup semakin indah maknai karunia dengan penuh kesyukuran sehingga terasa sebagai Anugrah.

Ketakutan – keberharapan,  buruk atau baik sangka, selalu muncul pada hati dan jiwa yang berusaha maknai apa-apa saja yang diterima dan sedang terjadi padanya. Muncul sebagai keseimbangan Seperti dua mata pada hati yang mana satu mata berbinar harap memandang indah surga Alloh, sementara satu mata yang lain terbanam takut melihat kengerian neraka.  Satu-satunya yang menangkan adalah memilih maknai dengan berbaik sangka ini kebaikan dari Alloh, inshaAlloh.