SMA, memang masa paling bahagia menurut saya sekaligus masa paling suram karena berjalan petentang-petenteng bangga dengan kebodohan dan kebobrokan saat itu. “Kesombongan di masa muda yang indah”, kata SO7 dalam lirik lagu Sahabat Sejati. Tak bermaksud berbangga dengan kelamnya masa lalu tapi ada sebuah kisah disana. Kisah yang berkali-kali membuat saya terbahak, sesekali menangis menoleh kemasa itu.
Di masa itu, menurut saya, yang paling keren adalah ketika ke sekolah dengan sepatu Nike, tas Spyderbilt, tunggangi Kawasaki Ninja RR, pergi dan pulangnya membonceng pacar. Di sekolah bergerombol dengan siswa “sejenis” dengan sepatu, tas, dan tunggangan yang tak kalah sporty bahkan beberapa ada yang ke sekolah dengan mobil mewah dengan terlebih dulu membunyikan klakson khasnya ketika memasuki pagar sekolah dan perlahan kaca film gelap terbuka dan si siswa melambaikan tangan sembari tersenyum tak simetris terangkat ke kiri atas sedikit, khas senyum pak raden tanpa kumis. Sembari dibumbui kresek-kresek suara siswa-siswi tertakjub-takjub dengan siswa itu. dan stir bundar itulah yang kemudian menyihir para kaum hawa, alhasil setiap bulan yang duduk dijok sebelah kiripun berganti-ganti. Ahh bahagianya hidup mereka.
Sayangnya bukan saya yang bersepatu dan tas bemerk jutaan itu dan bukan juga yang tunggangi motor dan mobil sporty itu. Saya hanya penonton. saya hanya anak seorang penjual sayur, yang dengan susah payah mencoba menjadi bagian dari mereka, dan bisa ditebak, tak pernah berhasil. Sepatu saya sekalipun bermerek, itu beli bekas dengan membayar ¼ dari harga jual di toko, itupun karena sepatunya sudah mau dibuang oleh teman yang hampir setiap bulan berganti-ganti sepatu. Pun begitu dengan tas juga bekas. ke sekolah dengan angkot sesekali turun lebih pagi agar bisa mencegat sahabat saya Fauzie yang diantar oleh orangtuanya dengan mobil Mitsubishi Galant silver yang pasti lewat di depan Gapura gunung belah rumah saya.
Yah, saya anak penjual sayur. Anak penjual sayur yang tak tau diri, tak tau diri dengan mengukur batas kebahagiaan dirinya dengan kebendaan sementara diri tak mampu. kemudian hidup dan waktu saya habis untuk memikirkan bagaimana saya bisa beli sepatu dan tas model terbaru, merasa terancam dan sakit hati sekali ketika ada siswa lain yang punya barang yang sama atau lebih parah lagi lebih bagus dan lebih mahal dari yang saya punya. terus..teruss begitu setiap harinya,dan itu adalah siksaan hati yang luar biasa.
Apakah sahabat pernah merasakan pengalaman yang hampir sama dengan cerita di atas?. Saat kebahagiaan hanya sebatas nilai kebendaan. Saat nilai diri ditentukan oleh mahal dan murahnya, bermerk atau tidaknya barang yang kita pakai lalu seketika harga diri dan hidup tak lagi berharga ketika ada orang lain yang menyamai atau bahkan melebihi.
Lalu bagaimana bisa merasakan kelezatan hidup sebenarnya? Tak ada yang salah dengan tas, sepatu, kendaraan, uang, atau apapun yang kita punya, tapi menjadi masalah ketika itu semua menjadi batasan untuk bisa merasakan dan menikmati bahagianya, lezatnya kehidupan ini. Berhentilah sejenak. Lalu rasakan kelezatan hidup yang benar-benar kita harapkan. Jujurlah, sampai kapan mau membatas-batasi kebahagiaan dan kelezatan hidup ini?
Mulai sekarang definisikan sendiri #hidupLezat dan bahagia apa yang kita mau. Definisikan dengan mengukur dan berkaca pada diri, bukan berdiri di atas ekspektasi kelezatan dan kebahagiaan hidup orang lain
Sahabat Berbahagialah …..
"Hidup bahagia dan lezat itu tak bersyarat, hidup bahagia dan lezat itu ada disini (dalam diri)"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar