Senin, 05 Maret 2012

Menyesal pernah Menyesal


5 tahun lalu saat bersejarah dalam perjalanan usaha saya. Sebuah warung tenda berukuran 3x3m tegak beridiri di depan pasca sarjana universitas Brawijaya jalan MT Haryono, Malang. Warung tenda dan peralatan yang jauh dari layak itu diberanikan untuk dibuka karena khawatir menunda-nunda menyurutkan semangat saya dan 3 teman  yang lain untuk berwirausaha. Bahkan atap tendapun belum terpasang hanya rangka saja yang berdiri pada hari pertama dibuka. 18 orang pembeli perdana mengobati kekhawatiran kami malam itu. Usaha ini yang membuat saya harus bolak-balik Surabaya-Malang, lepas kuliah terakhir hari rabu jam 12 siang lalu saya tolak ke Malang untuk jualan sampai senin dini hari kemudian lanjut kuliah senin paginya dan begitulah seterusnya. Warung tenda yang modalnya dari uang beasiswa putra daerah berprestasi dari kota tercinta Balikpapan ditambah beberapa modal tambahan dari 3 sahabat yang lain.

Namun cerita itu tak lama hanya berlangsung 4 bulan kemudian, dangkalnya ilmu dan lemahya mental diri, membuat saya menarik diri untuk keluar dari syarikah usaha itu. Sedih, berat hati ini, tempuh jarak Surabaya-Malang berjam-jam dengan motor astrea grand tua menjadi kenangan  menyenangkan, hambatan yang tak sama sekali mengurangi  semangat yang  saya rasakan saat itu. Belum lagi tetiba ditengah jalan diterpa hujan badai yang membuat diri teroyong-oyong menerpanya. Pergi kepasar, mendorong gerobak, mendirikan tenda kemudian membongkarnya, tenda itu tak boleh berdiri tetap karena akan merusak pemandangan dan mengganggu kegiatan kampus.

Sering ketika lelah menggempur tubuh dalam perjalanan pergi atau pulang ke Surabaya saya bertanya dalam diri, "benarkah ini yang kucari?", ahh sudahlah saya coba tenangkan diri. Saya hampir tak bisa bedakan ini tekad apa ego hanya emosi, teman-teman yang bilang "kamu gila".  Saat itu saya merasa sudah berikan segalanya untuk usaha itu, waktu, tenaga, bahkan kuliah yang jadi kewajiban saya saat itu, dan akhirnya saya tak lagi mampu membantah orang tua saya yang sejak awal tidak setuju dengan pilihan ini karena indeks prestasi saya turun dan hanya kurang 0.01 dan beasiswa di stop. karena tak lagi memenuhi kapasitas warung itu tutup, kuliah saya nyaris berantakan, dan hubungan dengan orang tua saya buruk. Ahh beratnya hati ini kala itu. Sempat terucap, “saya menyesal akan pilihan itu”.

Kembali ke dunia kampus, saya full di Surabaya hanya untuk kuliah, perasaan saya masih terbawa terus tutupnya usaha itu, saya sering menangis jika ingat, hati ini belum ikhlas karena entah harus memulai semuanya lagi darimana. Penyesalan berlebihan itu membuat hati dan fikiran saya suka usil berprasangka akan semua kehendak Alloh swt yang terjadi pada saya, saya berprasangka buruk karena saya belum temukan makna kenapa semua itu terjadi pada saya. Kenapa usaha itu tutup. Prasangka buruk karena ketika semua itu tertimpa pada diri, tak jadikan semua masalah menjadi alasan saya untuk mendekat kepada Alloh swt yang pasti punya maksud baik menurutNya walaupun terasa perih menyayat hati sang hamba yang bodoh dan dangkal akalnya.

Sampai  tiba pada suatu titik ditengah badai perasaan hati. Saya berdo'a, "Ya Rabb kini aku pasrah, hamba ini lemah tak berdaya, hamba ini dangkal ilmu dan akalnya, tuntun hati hamba, tunjuki jalan hamba, giring hamba ke jalan yang kau suka dan ridhoi, ganti usaha yang tutup ini dengan usaha yang lain usaha yang membuatku semakin cinta kepadaMu dan Kau pun juga cinta kepadaku". Do'a itu penawar semua galau hati yang kacau, berubah jadi lebih tenang.

Kekuatan mimpi untuk menjadi pengusaha dan iringan do'alah menjadi sebuah kekuatan magis, kekuatan alam bawah sadar memerintahkan untuk menjaga niat dan kesungguhan hati dan diri akan sebuah mimpi yang ingin diraih. Kekuatan mimpi yang akhirnya entah bagaimana mula awalnya Alloh swt yang Maha Baik dengan giringan takdirNya mempertemukan saya dengan seorang sahabat multi talent luar biasa yang tangan mungilnya mampu meramu resep menjadi sebuah makanan yang lezatnya sampai ke hati, Alhamdulillah.

Kami bercakapan di sebuah bangku batu dibawah pohon rindang kampus, dia berkata, "aku bisa buat kue lo..", katanya sambil merunduk agak sedikit malu.

"Oia?! Kalau memang bisa buat kue, coba saya dibuatkan", pinta saya sambil tersenyum, dan kebetulan kue yang dibuat adalah spikoe alias lapis surabaya. Belum ada niatan kala itu untuk menjadikan kue tersebut sebagai komoditi yang akan dijual, namun setelah kue tersebut berada di hadapan saya dengan warna kuning menyala dan coklat yang menggiurkan terlebih ketika satu gigitan mendarat lembut diatas lidah ini, "Subhanalloh...". lembut..manis..aroma citarasa khas kue yang dipandang saja sudah terasa di mulut dan saat itulah naluri berdagang saya "klik" mengatakan, "yah..kue ini layak dijual!", sambar saya membuat sahabat saya itu terkejut

" ahhh..becanda, gimana caranya"? Tanyanya heran.

 "oke kita bagi tugas, kamu fokus di produksi, soal bagaimana sampai nanti produk ini launching ini bagianku, siap jualan" tanya saya meyakinkan

"si..siap" jawabnya sedikit ragu.

Ahh agaknya ada yang kurang rasanya kalau saya tak sebutkan siapa partner saya ini, citra firdausi paramitha, seorang akhwat tangguh, kelahiran asli surabaya, usianya 2 tahun lebih tua dari saya, bukan hanya bikin kue, memasak sampai merias adalah hasratnya, hasrat merias itu yang membawanya lebih dulu dengan orang tuanya mendirikan sebuah "citralaras wedding organizer" . Kualitas riasan yang membuatnya dibayar mahal untuk merias sampai ke jakarta sampai tarakan kalimantan timur. Soal membuat kue tak kalah luar biasa, kalau urusan bikin kue, mulai bangun pagi sampai larut malam energinya full terus dan rasa tidak berubah sedikitpun, itu passion dia juga.

Alhamdulillah ini jalan Alloh obati luka hati saya, saya bertemu partner yang klop dia suka bikin kue dan saya suka makan kue. Dan yang lebih menyenangkan ketika kesenangan kami berdua bisa menghasilkan rupiah, kami memulai dari apa yang kami suka dan nikmati. Saya menyesal pernah menyesal atas masa lalu yang menurut saya buruk ternyata baik buat saya. Alloh tutup usaha di Malang lalu Alloh ganti dengan usaha yang lebih besar dan mapan di Surabaya. Kini tugas saya sekarang adalah terus berbaik sangka kepada Alloh dan amanah akan usaha ini.

Sekali lagi saya mau mengatakan saya menyesal pernah menyesal... :)


Follow @FauzanMaliq

Tidak ada komentar:

Posting Komentar