Minggu, 11 Maret 2012

Karena Memulainya pun Berbeda

Tampak ramai ibu-ibu berkumpul ramai riuh memilih sayur dan beberapa barang kelontongan untuk keperluan rumah tangga masing-masing disebuah warung. Serunya berbelanja kala itu tak lebih seru dari begitu semangatnya menceritakan anak kebanggaan mereka masing-masing. Ada Ibu yang begitu bangga dengan anaknya yang baru saja diterima disebuah Perguruan Tinggi Negri Paling Beken di Jogjakarta, sementara salah satu Ibu yang lain tak kalah antusias dengan dada sedikit membusung dagu mendongak, dan mata sedikit melirik tak mau kalah ceritakan anaknya yang baru diterima di Perusahaan BUMN paling "Basah" di Negeri Ini, sedangkan ibu-ibu yang lain asik menyimak dan menyeksamai, saling tindih dan timpali tak mau kalah bahwa anak merekalah yang paling Smart, paling Sukses sejagad bumi ini.

Kisah di warung itupun berlanjut masuk terbawa sampai  ke dalam rumah, mendengar prestasi anak tetangga sebelah yang menurut sang Ibu "Lebih Baik" dari pencapaian anaknya sendiri, yang saat itu baru merintis usaha yang pendapatannya baru cukup untuk hidupnya sendiri, bahkan sesekali terpaksa meminta kepada orang tua untuk tutupi kekurangan operasional Usaha. Sang Ibu lalu tak hentinya fasih dzikirkan nama anak tetangga di dalam rumah, "Lihat tuh si A kuliah di PTN no wahid di Jogja, liat tuh si B kerja di perusahaan Bonafit kariernya bagus, sedangkan kamu kerjaan juga belom becus" cecar sang Ibu, membuat perasaan dan hati sang anak semakin kecil terkucil.

Dibanding-bandingkan, disama-samakan. Anak mana yang sanggup dan mau dibanding disamakan dengan anak yang lain, apalagi disampaikan dengan cara yang menohok dan memojokkan yang hanya akan berbuah kesakithatian, perasaan minder dan keterkucilan hati yang tiada berujung.

Seringkali diri merasa pencapaian orang lain itu adalah segala-galanya. Seringkali kesuksesan orang lain itu membuat diri merasa tak berarti dan pupus merasa jauh tertinggal. Tak ada yang salah kagumi mereka yang sudah berhasil. Menjadi masalah ketika selangit pencapaian orang lain tak malah jadikan cambuk penyemangat untuk bertumbuh lebih baik tapi malah jadi pelemah pengecil hati yang buat diri semakin minder dan tak yakin kepada diri. Kita juga seringkali silau dengan kehidupan orang-orang ketika mereka telah sukses tapi enggan tuk belajar dan mengikuti bagaimana mereka melewati proses menuju kesuksesan.

Seringkali kita suka USIL banding-bandingkan pencapaian orang lain dengan pencapaian diri, Kita suka usil sama-samakan kesuksesan diri dengan kesuksesan orang lain. Jika mau bijak tanggapi, "Apa Pantas banding dan samakan pencapaian dan kesuksesan orang lain dengan pencapaian diri sementara  "MEMULAI"nya dengan Cara, Waktu, Tempat, Situasi, dan Kondisi yang sama sekali tak sama dan berbeda satu dengan yang lain.

Semoga Alloh takdirkan diri miliki sikap dan ucap yang mampu hargai sekecil apapun pencapaian diri dan orang lain. Jadikan diri lebih pandai memaksimalkan sebagai bentuk syukur apa yang telah dimiliki saat ini dan tak Ributkan apa yang belum ada dan dimiliki orang lain..

Tak pantas dibanding-bandingkan karena memulainya pun berbeda...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar