Disebuah majelis, seorang sahabat berdiri lalu bertanya sedikit tergagap, "Ustadz bolehkah saya segera menikah?Namun, Ibu saya tak begitu suka dengan pilihan saya ini".
Wuuuuushhh...pertanyaan itu lalu melayang membawa ingatan saya kepada Ibunda yang pernah bersungut-sungut tentang pilihan yang saya ajukan ketika semester 3 kuliah dulu. Pilihan dalam menyegerakan untuk menikah.
Ibu saya lalu berkata, "belum sampai rasanya Ibu mengehela nafas kamu masuk kuliah, sekarang kamu sudah inginkan untuk menikah, Nak". Matanya sendu sambil menyandar di sofa ruang tamu rumah. Duhh.. merasa berdosanya saat itu, telah buat perasaan beliau begitu beratnya tersender lemas mengelus dadanya.
Lalu berkeluhlah saya kepada seorang Guru, setelah menamati curahan hati sang Murid, santun merdu suaranya mulai mengalun menasihati.
"Zan,.. Saya tau betapa beratnya tantangan tuk menahan yang sedang kamu tahan sekarang. Saya pun tahu betapa cintanya dan payahnya kamu menjaga sikap dan ucapmu berusaha tak lukai hati durhakai orangtuamu selama ini". Matapun basah menitikan air keharuan.
"Perkaramu soal menikah ini, Mohonkanlah kepada Alloh SWT yang menguasai diri, orangtua, termasuk saya, untuk bimbing tuntun hati dan hajat ini. Apalah arti ingin kau sempurnakan Sayap dan setengah agamamu namun karena buruk dan tak santunnya sikapmu membuat hati orangtuamu tersayat perih. Apalah arti ingin kau utuhkan namun tak sadar kau hancurkan sebagian yang lain?", sambil ditepuknya bahuku perlahan. Berpeluk saling menguatkan.
"Zan, Jika benar ingin kau segerakan, segerakanlah, tapi jangan terburu". Tutup nasihatnya..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar