Selasa, 28 Februari 2012

Bergandengan Tangan dalam Mimpi


"segunung uang sungguh takkan mampu membayar darah yang teralir dan daging yang menempel dalam diri anak darah daging orangtuanya"

Beberapa bulan lalu, saya mengikuti kelas mentoring business #madrasahmujahidbisnis (mmb) bersama @kangrendy selama 2 bulan di bandung. Bertemu sahabat-sahabat baru, terbuka mata, bagaimana jalani usaha yang sesungguhnya, sebuah pengalaman yang luar biasa lezat. Berada dalam sebuah kelas bisnis non formal membuat kami para siswa (baca:santri) merasa dekat dan tak ubahnya seperti keluarga besar dalam majelis ilmu. Diakhir-akhir pertemuan mentoring itu, tampak seorang santriwati yang sedikit murung mendekat dan mulai berkeluh kesah.
"Kak doa'ain aku yah, supaya ortu ridho sama bisnis yang aku jalanin" ujarnya dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
“Aku pengen banget lanjutin bisnis aku tapi orang tua maunya aku jadi guru (PNS) aja", lanjutnya semakin galau.
“Orang tua sampai palingkan muka kalo aku sudah mulai-mulai ngomongin bisnis” dan isaknya pun mulai terdengar. Saya tertunduk, ada yang menyesak di dada dan tenggorokan, haru karena pun saya pernah rasakan dan alami keadaan yang serupa.
"baik jadi begini", saya coba menenangkan sambil menatapnya lekat-lekat,

Sahabat terbayangkah saat diri sukses nanti miliki segalanya? rumah, uang berlimbah, kendaraan mewah, tapi orang tua telah sakit hatinya karena luka durhaka anaknya? Demi Alloh, rumah, uang dan jejeran kendaraan mewah itu takkan sanggup membayar darah yang teralir dan daging yang menempel pada diri sebagai darah dan daging mereka.

#kataguruku, "sesuatu yang baik belum tentu tertangka niat dan maksud baiknya karena buruknya sikap dan ucap dalam penyampaiannya". Seringkali kita sebagai anak yang merasa sudah sekolah tinggi-tinggi tahu ini itu, kemudian sampaikan apa yang dimau dengan kesan menggurui. Pesan dan maksud baik dari niat dan mimpi tersamar kabut luka karena kasar dan angkuhnya ucap dan sikap seorang anak kepada orangtuanya".

Menetes air matanya, bergetar badannya yang bersandar di kursi besi berbantal abu-abu di auditorium Saputra Empire malam itu.

Sahabat, aku pun pernah alami hal yang serupa, ketika aku putuskan tuk memilih jadi pengusaha dan tak melamar pekerjaan seperti kebanyakan. Setiap teleponnya bapak terus membujuk pulang ke Balikpapan (bisnis di Surabaya) beliau bilang "pulanglah san kasihan mama, dia hanya mau buatkanmu sarapan sebelum kamu berangkat dan siapkan makan saat kamu pulang berlelah dari kantor". Sesak, coba bertahan beberapa hari lalu saya pun meminta izin kepada tim bisnis di Surabaya untuk pulang ke Balikpapan".

Saya mulai jalani hidup di Balikpapan setelah hampir 6 tahun meninggalkan rumah untuk kuliah. Bapak rajin sekali beli koran sepulang kerja apalagi sabtu minggu "ini dibaca! sapa tau ada lowongan"...perasaan saya menolak namun ketakutan menjadi durhaka dan buat hati orang tua luka lebih mengemuka. Saya baca korannya lingkari perusahaannya buat surat lamarannya. Satu-satunya penguat saat itu dan gantungan hidup sampai sekarang adalah Alloh SWT. Saat surat lamaran pun selesai saya buat lalu saya berdo'a kepada Alloh," Ya Rabb, kusempurnakan ikhtiarku untuk tak sakiti hati orangtuaku, karena aku yakin ridho mereka adalah ridhomu ya Rabb, kalau memang ini baik bagiku dan keluargaku muluskan lamaran ini, jika tidak tuntun hati diri dan orang tua agar ridho fauzan berbisnis. wahai Engkau yang bolak-balikkan hati, lembutkanlah". Benar saja 3 bulan di Balikpapan, hanya 1 yang merespon lamaran pekerjaan saya itu pun gugur di tes kedua, kemudian saya berdo'a lagi . "ya Rabb, jika ini pertanda fauzan harus balik ke Surabaya, maka bantu fauzan utarakan ke orangtua, terutama mama".

Pulang dari belanja melihat wajah mama yang dingin hanya melengos dihadapan karena sudah meraba kepulangan saya ke Surabaya. Saya gandeng tangannya, saya ajak beliau masuk kamarnya dan duduklah ia diatas pinggiran kasur dan saya duduk dilantai.

"Ma", sambil mencium tangannya, "izinkan fauzan kembali ke Surabaya jalankan usaha yang sudah ada, sungguh berbisnis dengan restu dan ridho mama saja fauzan terseok kesusahan tak terbayang jika mama gak ridho, susah hidup fauzan, Ma", dada yang sesak sedikit lega bersama air mata dan isak tangis kami berdua.
Dielusnya kepala saya, "mama hanya ingin kamu hidup enak zan, mama sedih kalau kamu hidup susah terlunta di tuamu nanti", ujarnya sambil terbata.
"kalau soal itu fauzan sepakat, anak mana yang ingin hidupnya susah, bisnis ini memang susah tapi fauzan yakin sama pilihan ini, pliss mama ridho", bujuk saya. 
"baiklah, kalau itu pilihanmu mama ridho, kalau kamu mau bisnis jangan setengah-setengah, kamu harus janji sama mama". Kemudian kami berpelukan dalam haru kasih sayang orangtua dan anak bungsunya dan beberapa hari kemudian, saya kembali ke Surabaya untuk kembali jalani bisnis dengan perasaan selega-leganya. Alhamdulillah begitulah kisah haru sepanjang sejarah hidup saya, 2 hati yang saling bertolak kini berjalan beriringan, dua hati yang yang dulau keras Alloh lunakkan dengan kasih sayangnya.

Begitulah sahabat lewati perbedaan dengan orang tua, saya berharap kisah ini bisa jadikan pelajaran tuk satukan mimpi dengan orang tua. Karena sebenarnya orang tua hanya ragu dan sedang menunggu pembuktian dari buah hatinya. Buktikan saja kalau memang bisnis ini adalah pilihan hidup kita.

Bergandengan dalam mimpi, berjalan beriringan, penuh cinta saling do'akan dalam ketulusan dan keridhoan, karena ridho mereka adalah ridho alloh juga :)
Saya do'akan semoga kita terus pantaskan dan perbaiki diri agar orang tua yakin dan ridho atas pilihan hidup kita masing-masing.

"Sepulang dari sini nanti raih tangan ibu bapak dirumah mohonkan maaf peluk mereka". Anjuran saya sekaligus pungkasi bincang malam itu.
"Terimakasih, Kak", sambungnya dengan wajah tak sekalut dimuka tadi.

Alhamdulillah tak ada kebahagiaan yang sebanding saat mampu turut hati merasakan apa yang dirasakan sahabat dan saudara yang lain. Jangan lepas gandengan tangan dalam mimpi dengan orang-orang yang terkasih.

follow @FauzanMaliq

Tidak ada komentar:

Posting Komentar