Minggu, 26 Februari 2012

Bahagia Diatas Mimpi

saya adalah bungsu dari 7 bersaudara, kami sekeluarga yang sudah terbiasa dengan iklim persaingan mulai dari persaingan sekolah favorit pacar siapa yang paling cantik, gadget siapa yang paling keren sampai sekarang pekerjaan siapa yang paling bonafit.

diantara seluruh saudara, saya merasa yang mendapat kebebasan lebih untuk melakukan apapun yang saya suka sepanjang itu positif saat kecil bermain dikubangan lumpur, main ditengah hutan, mengejar layangan putus ditengah terik matahari termasuk memilih bidang study yang saya rasa saya suka dan mampu.
"terserah kamu saja asalkan kamu gak aneh-aneh", kata orang tua saya.
dan benar saya merasa hidup saya lebih berwarna dibanding teman-teman yang untuk bermain saja dipilihkan oleh orang tuanya, jurusan study mau orang tuanya sampai pekerjaan pun orang tua yang mencarikan. semua mau orang tua atau orang lain. tak heran saya sering mendengar kisah dan bertatap muka langsung dengan mereka yang hidup diatas gairah orang lain. belajar ya belajar tapi gak ada gairah, bekerja ya datang kekantor tapi kerjaannya liat jam tangan melulu menunggu pulang jam 5, padahal masih jam 10 pagi.gelisah


balik kecerita saya..
saya merasa paling bersyukur memiliki keluarga semoderat itu.
sejak masih SMA saya sudah suka yang namanya urusan jual-jualan, bahkan kalau mau dirunut saya sudah memulai debut jualan saya kelas 1 SD, menjual kok bulutangkis bekas kepaman saya pengerajin lukisan timbul. sampai kuliah apa saja saya jual Pulsa, Baju, sepatu, jam tangan dan samapai pada sebuah titik saya merasa enjoy jualan no day without selling. karena ternyata #kataGuru saya selling itu penting kalo tidak jualan kepala jadi pening, jalan miring2, lama-lama jadi orang sin.." dan awal semester pertama saya langsung putuskan kalo saya mau jadi "pengusaha kuliner terlezat di Indonesia"

ini mimpi paling extream dalam sejarah keluarga saya, karena hanya saya satu-satunya anak yang mengambil jalan ke 6 saudara yang lain bekerja menjadi karyawan swasta mulai dari perusahaan ecek-ecek sampai perusahaan no Wahid di Indonesia

mimpi menjadi seorang pengusaha kuliner inilah yang saya nikmati saat ini..melakukan apapun yang berhubungan dengan entrepreneurship kuliner khususnya mulai dari berburu buku-buku baru, berguru kepada para Coach yang lebih ahli, bertemu klien semua saya lakukan dengan senang hati dengan perasaan setulus-tulusnya.
saya anggap pekerjaan saya adalah tamasya. masalah yang saya hadapi ada jamu pahit pembugar tubuh dan lelah dalam senyum dan kepuasan. karena saya telah berdiri diatas mimpi pribadi saya bukan mimpi orang tua atau mimpi orang lain.

Hidup hanya sekali, masih maukah terus-terusan menderita menjalani hidup diatasgairah orang lain? saya sudah tentukan mimpi saya menjadi pengusaha kuliner javaSpikoe terlezat di Indonesia

sekarang apa mimpi sahabat???

Follow saya @fauzanMaliQ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar